Kamis, 10 April 2014

Komodo: Fakta Menarik tentang Reptil Raksasa




Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class:  Reptilia
Order: Squamata
Family: Varanidae
Genus: Varanus
Species:Varanus komodoensis

Fakta dasar tentang Komodo:
Komodo adalah reptil yang berukuran paling besar dan paling kuat. Reptil atau kadal ini memiliki kepala yang pipih dengan moncong yang bulat, kulit bersisik, kaki yang menekuk dan ekor yang berotot dan besar.

Komodo adalah pemburu ganas dan termasuk ke dalam kelompok kadal monitor. Hewan ini dapat tumbuh hingga berukuran panjang 10 kaki (3 meter) dan mencapai berat hingga 20 pon (90 kilogram). Mereka dapat mencapai umur hidup 30 tahun di alam liar, dan dapat memanjat pohon dan berenang.
Komodo dapat memangsa apa saja tetapi lebih sering memangsa rusa, kambing, babi, anjing dan kadang manusia. Reptil raksasa ini juga kadang saling menyerang satu sama lain.

Kadal raksasa ini menggunakan lidahnya yang  panjang berbentuk forok— yang dapat berfungsi sebagai alat perasa dan penciuman, untuk mendeteksi bahan kimiawi di sekitarnya. Ketika berburu, komodo tergolong sabar dan pintar berkamuflase saat menunggu mangsanya lewat. Ketika korban roboh, komodo akan menggunakan kaki-kakinya yang kuat beserta 60 giginya yang tajam menyerupai gigi ikan hiu untuk mengeluarkan isi perut mangsanya. 

Hewan yang sempat lolos dari cengkraman rahang Komodo hanya menikmati keberuntungannya sesaat saja. Saliva atau air liur komodo mengandung lebih dari 50 jenis bakteri, dan dalam waktu 24 jam, hewan yang tergigit tersebut akan mati akibat keracunan darah.  Komodo secara tenang mengikuti korban tergigit yang sedang sekarat keracunan darah tersebut. Komodo menggunakan ketajaman indera pembaunya untuk melacak keberadaan bangkai. Dalam sekali makan, seekor komodo dapat memakan korbannya yang berukuran berat 80% dari berat tubuhnya.

Musim kawin komodo berkisar antara Mei hingga Agustus. Komodo betina menghasilkan 30 butir telur di bulan September. Anak komodo yang baru menetas berukuran kecil dan rawan terhadap ancaman predator. Mereka berukuran kurang dari 3 ons (100 gram) dengan panjang hanya 16 inci (40 cm). Komodo kecil menghadapi dunia yang keras; Komodo muda menghabiskan tahun-tahun pertama hidupnya di pohon, tempat yang cukup aman dari serangan predator terutama komodo dewasa yang kanibal, yang menggunakan komodo muda sebagai 10 persen dari dietnya.

Komodo umumnya hidup soliter di luar musim kawinnya  dan menjaga teritorialnya serta berpatroli hingga sejauh 1,2 mil (2 kilometer) setiap hari. Komodo menjaga lubang-lubang galian yang berada dalam area teritorialnya dan kadang-kadang komodo jantan berenang dari pulau ke pulau melintasi jarak yang cukup jauh.  Komodo mengatur suhu tubuhnya dengan memanfaatkan lubang galiannya.

Habitat Komodo
Sementara beberapa komodo hidup di kebun binatang, sebagian besar komodo hidup di dalam habitat alaminya di beberapa pulau di sebelah tenggara Indonesia yaitu Pulau Komodo, Flores, Padar, dan Rinca.

Status Konservasi: Sangat rawan
Komodo merupakan spesies yang terancam punah dikarenakan wilayah hidupnya yang terbatas. Mereka telah dijadikan  hewan buruan (legal dan ilegal) selama beberapa tahun di masa lampau, namun belum menyentuh titik hilangnya populasi komodo.

Di Indonesia, Taman Nasional Komodo, didirikan pada tahun 1980, telah membantu melindungi reptil raksasa tersebut. Diperkirakan ada sejumlah 4000 hingga 5000 ekor komodo di alam, namun para pegiat konservasi memperkirakan hanya ada sekitar 350 induk betina di alam.

Aktivitas gunung berapi, gempa bumi, kehilangan habitat, kebakaran, kehialangan mangsa, perburuan liar telah menjadikan komodo dalam posisi atau status  yang terancam.

Fakta unik lain tentang Komodo:
Komodo dapat melihat objek sejauh 300 meter (sekitar 980 kaki), sehingga penghilatan sangat penting bagi komodo dalam perburuan mangsa, tetapi mereka juga memanfaatkan kemampuan sensorik penciumannya untuk melokalisir dan menangkap mangsanya.

Anehnya, gigitan Komodo tidaklah mematikan bagi komodo lain. Komodo yang terluka akibat perkelahian sesama komodo tidak mengalami bahaya akibat pengaruh venom. Para ahli sedang meneliti kemungkinan antibodi dalam darah komodo yang bertanggungjawab atas perlindungan alamiah tersebut.
Setelah makan atau menelan mangsa, lambung komodo dengan mudah akan mengembang. Komodo akan memuntahkan isi lambungnya apabila terancam  untuk mengurangi beban beratnya agar dapat melarikan diri.

Komodo makan lebih efisien dibandingkan karnivora lainnya, dengan hanya menyisakan 12 percent bagian tubuh mangsanya— bandingkan dengan singa yang meninggalkan 30 hingga 35 persen bagian tubuh mangsanya. Komodo memakan habis tulang, kuku, dan kulit mangsanya.
===============//////==================

Kamis, 26 April 2012

Visi, Misi dan Program


VISI, MISI dan PROGRAM CALON KETUA PDHI CABANG NTT PERIODE MASA BAKTI 2012-2016
Drh. Maxs Urias E. Sanam, M.Sc.


Latar Belakang
UU Nomor 18 Tahun 2009 mendefinisikan bahwa Dokter hewan adalah orang yang memiliki profesi di bidang kedokteran hewan, sertifikat kompetensi, dan kewenangan medik veteriner dalam melaksankan pelayanan kesehatan hewan. Profesi dokter hewan di Indonesia dewasa ini menghadapi tantang besar baik dalam lingkup nasional maupun global dan karena itu memerlukan adanya kesatuan pandangan (visi), kepemimpinan (leadership) dari kebhinekaan kekuatan yang berbasis pada profesionalisme kedokteran hewan di berbagai lini.
Bahwasanya profesi dokter hewan merupakan profesi di bidang kedokteran (medis) yang bersifat keahlian khusus (sesuai UU Sisdiknas No. 2 Tahun 1989 dan diatur dalam PP No. 60 Tahun 1999) dan memiliki ciri universal maka sebagaimana ditargetkan oleh FKH dan PB PDHI melalui MoU Pendidikan Tinggi Kedokteran Hewan Indonesia harus memenuhi ciri-ciri termaksud dan mengikuti ketentuan universal di bidang medis veteriner.
Pengabdian profesi veteriner untuk kepentingan kemanusiaan, masyarakat dan keharuman nama bangsa dan negara melalui dunia hewan atau sesuai motto PDHI “Manusya Mriga Satwa Sewaka” harus didorong dan didukung bersama oleh segenap dokter hewan yang terhimpun dalam organisasi profesi PDHI baik yang di daerah maupun di Pusat.
Permasalahan terbesar yang menjadi tantangan profsi dokter hewan di Indonesia adalah kualifikasi,  etika veteriner, dan kompetensi profesi individual dokter hewan yang harus dijamin dengan rekomendasi organisasi profesi (PDHI) dan kedudukan hukum profesi dokter hewan untuk memperoleh otoritas (kewenangan) yang wajar sebagai profesi kedokteran yaitu otoritas medis veteriner dan otoritas veteriner sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Organisasi profesi PDHI baik pusat maupun daerah harus dapat memberikan masukan dan kritik yang membangun diminta ataupun tidak diminta oleh berbagi pihak seperti DPR, DPRD, Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang bermanfaat bagi yang berkepentingan.
Melihat tantangan dan peluang di atas, maka saya (drh. Maxs Urias E. Sanam, M.Sc.)- jika terpilih sebagai Ketua PDHI Cabang NTT, menawarkan Visi, Misi dan Program Kegiatan sebagai berikut.

Visi:
Bersatu untuk kemajuan profesi, dan mengabdi untuk kesejahteraan masyarakat NTT melalu dunia hewan.
Misi:
  1. Menciptakan tata kelola organisasi yang baik
  2. Meningkatkan peran organisasi untuk mengayomi kepentingan sosial dan kepentingan profesional anggota  
  3. Mengembangkan dan membina profesi dokter hewan yang profesional, dan bermartabat.
  4. Melindungi kesehatan hewan dan masyarakat serta meningkatkan produktivitas hewan/ternak melalui penerapan otoritas veteriner dan siskeswannas
Strategi:
  1. Menyusun TUPOKSI setiap unsur/komponen organisasi dan SOP
  2. Mengembangkan dan menerapkan sistem kepemimpinan kolektif
  3. Meningkatkan peran Organisasi dalam pemenuhan hak-hak dasar anggota, dan aktivitas-aktivitas sosial, terutama yang berhubungan dengan kepentingan anggota
  4. Meningkatkan kompetensi, knowledge, dan skill anggota menghadapi tantangan dan persaingan global
  5. Meningkatkan kesadaran etik dan moral dalam pelayanan jasa medik veteriner
  6. Meningkatkan jejaring kerja sama dengan berbagai stakeholder (Pemerintah, LSM dalam dan luar negeri, Swasta, )
  7. Meningkatkan peran organisasi dan individu dalam melindungi  kesehatan hewan dan masyarakat serta meningkatkan produktivitas hewan/ternak melalui penerapan otoritas veteriner dan siskeswannas
Program/Kegiatan:
1.  Inventarisasi data base anggota beserta keluarga intinya
2.  Pengadaan Kartu Anggota PDHI
3.  Memfasilitasi penerbitan Sertifikat Kompetensi bagi dokter hewan lulusan hingga tahun 2010
4.  Memfasilitasi penerbitan ijin praktik drh, dan ijin-ijin pelayanan usaha jasa veteriner
5.  Sosialisasi dan advokasi penerapan Otoritas Veteriner kepada anggota dan stakeholder terkait (terutama Pemerintah daerah)
6. Mengkaji potensi pembukaan cabang PDHI NTT baru
7.  Training dan workshop dalam bidang ilmu/aspek tertentu (continuing education) terutama yang berhubungan dengan recent practices and issues yang relevan dengan kebutuhan lokal, bekerjasama dengan PB PDHI dan pihak-pihak lain terkait.
8. Menggiatkan tanggung-jawab anggota terhadap dukungan pembinaan organisasi (Menggiatkan iuran wajib bulanan)
9. Menggiatkan aktivitas silaturahmi kepada kolega-kolega senior
10. Mengaktifkan dan menggiatkan aktivitas social networks
11. Menggiatkan aktivitas-aktivitas olahraga, dan rekreasi yang melibatkan seluruh anggota beserta keluarganya
12. Memfasilitasi aktivitas-aktivitas sosial tertentu yang berhubungan dengan pemberdayaan anggota, dan masyarakat peternak.
13. Pemberian PDHI NTT Award untuk dokter hewan berprestasi di bidang pengabdian medik veteriner
14. Workshop dan Penulisan Sejarah Kiprah dokter hewan di NTT

drh. Maxs Urias E. Sanam, M.Sc.
=============================/////=====================================

Senin, 28 November 2011

Undana Buka Prodi Kedokteran Hewan
Cikal Bakal FKH

Alfred Dama

http://202.146.4.119/read/artikel/40280/sitemap.html
Harian Pos Kupang, Jumat, 11 Desember 2009
pos kupang/alfred dama
Rektor Undana, Prof.Ir.Frans Umbu Datta, M.App, Sc, Ph.D didampingi Ketua PB PDHI, dr.Wiwik Bagja dan Plt.Setda NTT, Ir. Benny Ndoenboey pada Pembukaan Workshop Pendirian Prodi Kedokteran Hewan Undana di Kantor Pusat Undana, Selasa (8/12/2009)
Jumat, 11 Desember 2009 | 10:52 WITA


Prodi yang bernaung dalam Fakultas Peternakan (Fapet) ini merupakan cikap bakal berdirinya Fakultas Kedokteran Hewan (FKH). Tahun 2010, prodi ini akan menerima mahasiswa baru.

Demikian Rektor Undana, Prof.Ir.Frans Umbu Datta, M.App, Sc, Ph.D disela acara Workshop Pemantapan Prodi KDH dii Universitas Nusa Cendana bertempat di Ruang Rapat Rektorat-Kantor Pusat Undana, Selasa (8/12/2009).

Pembukaan Workshop tersebut dibuka oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya yang diwakili, Plt.Sekertaris Daerah (Setda) NTT, Ir. Benny Ndoenboey dan dihadiri Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), drh.Wiwik Bagja, Ketua Majelis PendidikanProfesi Kedokteran Hewan, Prof.drh.Ruastita, Seketaris Majelis PendidikanProfesi Kedokteran Hewan, Prof.drh. Bambang Pontjo dan Ketua Prodi Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya-Malang, Prof.drh.Pratiwu.

Umbu Datta dalam pembukaan Workshop tersebut mengatakan, Undana telah melakukan studi kelayakan pendirian Prodi Kedokteran Hewan dan berdasarkan hasil studi tersebut, pihaknya telah mengajukan proposal rencana pendirian prodi tersebut ke Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasinal. "Kita sudah mengirim proposal ke Dikti bulan Mei lalu, dan kita berharap ini bisa direalalasi," jelasnya.

Dijelaskan, kehadiran ketua Pengurus Besar PHDI dan Ketua Majelis Pendidikan Profesi Kedokteran Hewan serta Ketua Prodi Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya merupakan bentuk dukungan berdirinya prodi kedokteran hewan di Undana yang selanjutnya akan menjadi FKH.

Dijelaskan, di NTT saat ini hanya ada 86 orang dokter hewan, sementara jumlah ternak besar mencapai 140 ribu ekor. "Kondisi ini berarti sebanyak 86 orang ini harus melayani 140 ribu hewan di NTT," jelas Umbu Datta. Bila kondisi demikian maka tidak semua hewan bisa teratasi dengan jumlah tenaga terbatas ini apalagi NTT saat ini sedang berupaya mengembalikan status sebagai gudang ternak.

Dijelaskan, di Undana sendiri sudah memiliki 17 orang dokter hewan yang akan menjadi dosen-dosen di Prodi Kedokteran Hewan serta didukung tenaga ahli lainnya yang relevan dengan bidang ilmu tersebut.

Plt.Setda NTT, Ir.Benny Ndoneboy pada kesempatan itu mengatakan pemerintah Propinsi NTT akan terus mendukung Undana untuk memajukan pendidikan di NTT. Dukungan pemerintah yang sudah dilakukukan antara lain pendirikan Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Pendirian Fakultas Kedokteran. Pemprop juga akan mendukung pendirikan Fakultas Kedokteran Hewan.

Ketua Pengurus Besar PDHI, drh.Wiwik Bagja mengatakan salah satu syarat pendirikan prodi kedokteran hewan adalah lembaga pendidikan tersebut harus memiliki Fakultas Kedokteran. Dan, hal ini telah dimiliki Undana.

Ketua panitia kegiatan ini, drh.Max Sanam, M.S dalam laporannya mengatakan Undana sebagai lembaga pengakaji dan pengembang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) serta penghasil sumber daya manusia berkualitas memiliki tanggung jawab moril untuk berperan mendidik dan mencetak sarjana-sarjana kesehatan hewan (dokter hewan) handal yang nantinya akan berkntribusi nyata dalam pembangunan bidang kehewanannya khususnya aspek kesehatan hewan.

"Peranan ini secara institusional diwujudkan dengan menginisiasi pembukaan prodi kedokteran hewan," jelas Max Sanam.(alf)


drh.Wiwik Bagja: Tahu Tapi Tidak Tahu

BANYAK orang yang seolah-seolah mengetahui banyak tentang kedokteran hewan. Tidak terkecuali para akademiisi yang mendalami ilmu peternakan, namun sebenarnya para ilmua tersebut tidak mengetahui apa-apa tentang kedokteran hewan. Yang paling mengetahui tentang kedokteran hewan hanyalah para dokter hewan.

Ungkapan drh.Wiwik tersebut membuka sambutannya pada Workshop Pemantapan Prodi KDH dii Universitas Nusa Cendana bertempat di Ruang Rapat Rektorat-Kantor Pusat Undana, Selasa (8/12/2009). Apa yang disampaikan Ketua Pengurus Besar PDHI ini langsung menarik perhatian.

Menurut Wiwik, pemahaman selama ini adalah kedokteran hewan hanya terkait dengan hewan pangan yaitu untuk memenuhi kebutuhan susu, telur dan daging saja. Padahal dalam kedokteran hewanh banyak sekali keilmuan dalam bidang hewan.

"Banyak anggapan bahwa kedokteran hewan untuk memenuhi kebutuhan pangan saja, padahal kedokteran hewan saja banyak kegunaan untuk kelangsungan hidup hewan. Di NTT ada binatang Komodo yang langka, itu memerlukan tenaga kesehatan hewan yang khusus untuk itu," jelasnya.

Dijelaskan, kedokteran hewan terbagi dalam lima bidang pertama, kedokteran hewan yang hanya menangani ternak pangan yaitu untuk menghasilkan telur, susu dan daging, kedua kedokteran hewan yang menangani hewan hobies yaitu hewan-hewan yang dipelihara di rumah karena hobi. Ketiga, kedokteran hewan yang menangani hewan Wild Life atau hewan-hewan yang diperliahra di cagar alam dan kebun binatang.

Keempat, kedokteran hewan yang menangani hewan air. Khusus untuk hewan air ini terbagi lagi yaitu hewan air untuk dimakan dan untuk peliharaan. Kelima, kedokteran hewan laboratorium yaitu dokter hewan yang melakukan penelitian dan pekerjaan di lab.

Menurutnya, kehadiran tenaga kesehatan hewan akan sangat membantu meningkatkan
Dijelaskan, kehadiran tenaga kesehatan hewan akan sangat membantu meningkatkan Pendapatn Asli Daerah (PAD). Ia menncotohkan di Jakarta, Pemda DKI memiliki rumah sakit hewan dan klinis hewan.

Setiap tahunnya, lembaga tersebut memberi sumbangan PAD sekitar Rp 3 miliar hingga Rp 4 miliar pertahun. Pendapatn pada umumnya dari hewan hobies. Kiranya ini bisa dilirik oleh Pemda NTT. (alf)

HARIAN Timor Express, KAMIS, 07 MAY 2009, | 296 (http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&nid=32098)

Ancaman Wabah Penyakit Flu Babi di Indonesia
(Suatu Tinjauan Kritis Terhadap Upaya Pencegahannya)



Drh. Maxs U.E. Sanam, M.Sc.
Dosen Mikrobiologi dan Parasitologi Fakultas Peternakan Undana

Masyarakat internasional kembali terhentak dengan ancaman wabah virus flu babi (swine flu), sementara dalam saat yang sama ancaman wabah flu burung masih terus menghantui. Virus flu babi ini dilaporkan mewabah pertama kali di Meksiko dan menular ke beberapa negara bagian Amerika Serikat. Penularannya kemudian meluas ke beberapa negara eropa dan asia, termasuk Cina, Korea Selatan, Hongkong, dan Selandia Baru.

Publikasi data Badan Kesehatan Dunia (WHO) per 4 Mei 2009, total 21 negara telah tertular virus ini (http://www.who.int/csr/disease/swineflu/). Jumlah korban terbanyak terjadi di Meksiko yakni 149 orang dilaporkan meninggal dunia dengan dugaan kuat akibat infeksi virus flu babi. Sedangkan di luar Meksiko, hanya tercatat satu kasus kematian yakni yang terjadi di Amerika Serikat.

WHO memberikan perhatian serius dan melakukan penyidikan yang intensif terhadap wabah virus flu babi ini. Dalam waktu yang relatif singkat, badan dunia in telah meningkatkan dan menetapkan kondisi wabah ini pada level 5 yang mengisyaratkan wabah telah meluas ke minimal dua kawasan dunia yang berbeda. Tinggal satu level lagi untuk mencapai level 6, tingkat tertinggi untuk mengisyaratkan keadaan pandemik; suatu situasi dimana wabah terjadi secara meluas di banyak negara di berbagai kawasan dunia. WHO menggambarkan situasi saat ini sebagai situasi darurat kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius masyarakat internasional.

Respon berbagai negara
Kondisi wabah di Meksiko dan Amerika Serikat tersebut telah disikapi secara beragam oleh berbagai negara. Di Jepang, misalnya, manajemen bandara internasional telah memperketat pengawasan terhadap penumpang yang tiba dari Meksiko. Petugas karantina mengenakan masker hidung dan mulut saat mengaplikasikan alat pendeteksi suhu tubuh untuk mendeteksi para penumpang yang kemungkinan menderita demam dan gejala-gejala flu. Pemerintah Korea Selatan dan Taiwan juga menerapkan kebijakan dan prosedur yang sama.

Seluruh penumpang yang baru tiba dari Negara-negara terjangkit flu babi harus melewati pemeriksaan medis. Pemerintah Korea Selatan juga memerintahkan untuk mengkarantina daging babi import asal Meksiko dan Amerika Serikat. Pemerintah Rusia bahkan menerapkan kebijkan yang lebih keras lagi yakni melarang impor daging babi dari kedua Negara tersebut, dan sembilan negara Amerika Latin.

Pemerintah Indonesia sendiri juga telah bereaksi secara cepat dan cukup keras. Presiden SBY bahkan telah menginstruksikan untuk menghentikan sementara impor produk-produk babi dan hasil olahannya dari negara-negara tertular penyakit, terutama Meksiko dan Amerika Serikat. Di samping itu juga telah diinstruksikan pengawasan karantina secara ketat pada pintu bandar udara dan pelabuhan laut utama. Tak ketinggalan, alat detector suhu tubuh pun telah dioperasikan pada Bandara internasional Soekarno-Hatta.

Strain baru dan penularannya
Munculnya strain virus flu babi ini sebenarnya tidaklah mengherankan para ahli kesehatan, khususnya ahli mikrobiologi, karena telah diprediksikan jauh sebelumnya seiring dengan merebaknya wabah virus flu burung yang disebabkan oleh strain H5N1. Virus flu babi yang dikenal juga sebagai virus influenza babi (swine influenza) tipe A jenis strain H1N1 adalah strain virus yang diduga muncul sebagai campuran dari virus flu pada babi, unggas, dan manusia.

Pencampuran materi genetik virus hewan dan manusia ini memudahkan virus yang semulanya hanya berjangkit diantara hewan saja, sekarang memiliki kemampuan menjangkiti manusia dan berpeluang menimbulkan pandemi. Kasus pandemik influenza terparah terjadi dalam rentang tahun 1918 – 1919 dimana jutaan orang meninggal di seluruh dunia. Namun terkait dengan wabah influenza kali ini, WHO mengisyaratkan bahwa jika saja pandemik virus H1NI terjadi, kondisinya tidak akan separah pandemik di masa lalu mengingat perbedaan tingkat keganasan virus, status gizi, serta keberadaan layanan sarana dan prasarana kesehatan masa sekarang yang sudah jauh lebih baik.

Penyebaran virus flu babi pada orang sama dengan virus flu pada umumnya. Virus menyebar terutama dari orang ke orang melalui batuk ataupun bersin oleh penderita influenza. Kadangkala seseorang dapat terinfeksi karena bersentuhan dengan obyek yang sudah tercemar virus dan kemudian orang tersebut menyentuh hidung atau mulutnya. Virus sudah dapat ditularkan sehari sebelum penderita menampakkan gejala hingga hari ke tujuh atau lebih setelah muncul gejala sakit. Virus flu babi tidak ditularkan melalui makanan dan karenanya seseorang tidak dapat tertular flu babi akibat mengkonsumsi daging babi.

Gejala penyakit
Simptom atau gejala-gejala flu babi adalah sama dengan simptom penyakit flu biasa musiman (seasonal flu) yang meliputi demam, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri badan, sakit kepala, kedininginan, dan lemas. Beberapa pasien penderita flu babi dilaporkan mengalami diare dan muntah. Pada kasus yang berat dan dikategorikan sebagai kasus emergensi, gejala yang teramati berupa kesulitan bernafas atau nafas yang pendek, adanya rasa sakit pada dada ataupun perut, pusing secara tiba-tiba, ataupun muntah terus-menerus.

Pencegahan dan Pengobatan
Hingga saat ini belum ada vaksin untuk melindungi seseorang dari penyakit flu babi. Namun, Central for Diseases Control (CDC) atau Pusat Pencegahan dan Pengendalian Amerika merekomendasikan beberapa tindakan-tindakan sederhana praktis untuk mencegah penularan virus yang menyebabkan gangguan pernafasan tersebut. Tindakan-tindakan tersebut antara lain: Menutup hidung dan mulut dengan kerta tisu saat batuk ataupun bersin dan membuang tisu tersebut ke kotak sampah tertutup; mencuci tangan sesering mungkin dengan air hangat dan sabun, terutama setelah bersin atau batuk; hindari menyentuh mata, hidung, ataupun mulut karena virus masuk ke dalam tubuh dengan cara tersebut; hindari untuk kontak atau berdekatan dengan penderita; jika seseorang terinfeksi virus flu sebaiknya tetap tinggal di rumah dan menghindari kontak dengan orang lain agar tidak menyebarkan virus kepada orang lain baik di rumah, di sekolah ataupun di tempat kerja (http://www.cdc.gov/swineflu/swineflu_you.htm).

Selanjutnya, jika seseorang menderita sakit dan mengalami gejala-gejala influenza seperti dijelaskan di atas maka sangat disarankan untuk meminta penanganan medis kepada perawat ataupun dokter. Pengobatan harus dilakukan seawal mungkin. Untuk obat, WHO dan CDC merekomendasikan oseltamivir ataupun zanamivir untuk digunakan pada pengobatan ataupun pencegahan infeksi virus flu babi pada manusia.

Kasus flu babi pada ternak di Indonesia
Kasus influenza babi belum pernah dilaporkan di Indonesia, termasuk di dalam wilayah provinsi NTT. Swine influenza merupakan penyakit gangguan pernafasan pada babi yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Penyakit ini meskipun memiliki angka kematian rendah, hanya 1 – 4%, namun memiliki dampak ekonomi yang cukup besar terhadap industri peternakan babi. Pada babi, disamping menyebabkan gejala-gejala flu, penyakit ini juga menyebabkan penururan kesuburan dan bahkan keguguran pada induk babi. Data penelitian menunjukkan bahwa 30% hingga 50% babi komersial di Amerika Serikat pernah terinfeksi dengan virus flu babi. Bahkan, penelitian terbaru di Negara tersebut mengungkapkan bahwa 15% – 25% peternak babi, dan 10% dokter hewan sudah pernah terinfeksi dengan virus flu babi. CDC juga melaporkan bahwa wabah flu babi pernah berkecamuk di tahun 1976 yang menyebabkan lebih dari 200 orang menderita sakit, beberapa di antaranya sakit cukup serius, dan satu orang meninggal dunia.

Babi terinfeksi virus flu H1N1 dari ternak lain yang sakit, tetapi dapat juga terinfeksi oleh unggas (flu burung), dan dari manusia (flu manusia). Infeksi silang yang terjadi di antara ketiga species ini berpeluang untuk melahirkan tipe atau strain virus flu yang baru. Hal inilah yang dikhawatirkan terjadi dengan virus flu babi H1N1 yang saat ini mewabah di Meksiko dan Amerika Serikat dan banyak Negara lain di dunia. Secara tipikal, virus tersebut adalah virus H1N1 namun secara genetik telah mengalami perubahan atau mutasi sehingga virus menjadi lebih ganas dan lebih mampu menular di dalam populasi manusia.

Disorientasi penanganan ancaman wabah
Untuk mencegah mewabahnya virus flu babi ke dalam wilayah yang masih steril beberapa Negara, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, melarang impor produk-produk asal babi. Bahkan ironisnya, Mesir telah memusnahkan lebih dari 300 ribu ekor babi dengan tujuan mencegah masuknya virus ke dalam Negara tersebut- suatu strategi yang dikritik WHO sebagai tindakan yang keliru atau tidak tepat (inappropriate action).

Untuk menghindari salah-kaprah dalam penanganan wabah virus ini yang dapat berujung pada pemusnahan populasi babi secara berlebihan sehingga mengancam industri peternakan babi, maka WHO tidak lagi menggunakan istilah ‘virus swine flu’ (virus flu babi) tetapi menamai virus flu ini dengan menggunakan nama ilmiahnya yakni ‘virus influenza A H1N1’.

Di Indonesia, beberapa pemerintah daerah nampaknya lebih memfokuskan diri kepada permasalahan penyakit pada peternakan babi daripada penanganan terhadap ancaman wabah virus influenza H1N1 itu sendiri. Sejumlah pemerintah daerah kabupaten di Jawa Barat dan Jawa Tengah misalnya secara tegas melarang peternakan babi di dalam wilayahnya untuk mencegah penularan virus flu babi.

Sungguh ironis bahwa kebijakan pencegahan penyakit dilakukan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan aspek biologis, epidemiologis, dan ekonomis. Wabah virus H1N1 saat ini tidak lagi berhubungan dengan babi karena virus sudah secara mudah menular di antara orang. Cepatnya penularan ke wilayah Negara lain lebih disebabkan oleh mobilitas transportasi orang yang tinggi, dan bukan karena impor produk-produk asal babi, apalagi karena memakan daging babi.

Virus influenza H1N1 tidak ditularkan melalui konsumsi daging babi ataupun makanan lain. Kasus penderita flu babi pada orang di Selandia Baru, Hongkong, Cina dan banyak negara lain di dunia, ditemukan pada orang yang memiliki riwayat berkunjung ke negara tertular, khususnya ke Meksiko. Hal ini membuktikan bahwa virus H1N1 asal Meksiko dan Amerikan Serikat adalah ‘biang kerok’ dari wabah flu babi di dunia saat ini yang penularannya harus dicegah atau diminimalisir melalui penerapan strategi yang benar dan efektif dengan memperhatikan kaidah-kaidah biologis dan epidemiologis.

Bagi Indonesia, fokus pencegahan terhadap peluang masuk dan merebaknya virus H1N1 seharusnya lebih diarahkan kepada potensi penularan oleh orang terinfeksi meskipun harus diakui upaya preventif membendung masuknya virus dari luar dapat saja menuai kegagalan. Seorang pelancong yang telah terinfeksi virus H1N1 dapat saja menularkan virus tersebut sehari sebelum ataupun 7 hari setelah menunjukkan gejala sakit flu, dan gejala demam-nya tidak terdeteksi oleh alat detektor panas.

Terlepas dari potensi kegagalan tersebut, manusia haruslah tetap menjadi prioritas utama pencegahan dan penanganan penyakit karena mereka adalah species penular dan korban utama infeksi virus H1N1.

Meskipun saat ini Indonesia masih dinyatakan bebas dari penyakit flu H1N1, upaya-upaya kesiagaan dini yang bertumpu kepada peningkatan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat seharusnya sudah mulai digalakkan. Sosialisasi penyakit utamanya tentang cara-cara menghindari penularan perlu dirintis dan diintensifkan yang mencakup pembatasan mobilitas sosial bagi penderita flu, peningkatan pengetahuan higienis dan sanitasi, penyediaan dan pemakaian masker mulut dan hidung.

Sosialisasi seyogyanya dimulai dari kelompok yang lebih rentan, utamanya anak-anak sekolah mulai dari play group hingga sekolah dasar dan menengah. Di samping itu, diperlukan perhatian serius dalam penyediaan obat-obat flu, serta perbaikan sarana dan prasarana kesehatan dalam kaitan menghadapi ancaman wabah influenza.

Meskipun babi bukan merupakan penular utama virus H1N1, namun mengingat sifat virus influenza yang mudah melakukan perubahan karena melakukan pencampuran materi genetik yang kemudian memunculkan varian virus baru maka upaya-upaya sanitasi dalam budidaya ternak babi perlu ditingkatkan. Populasi ternak tidak boleh terlalu padat dan ventilasi udara di dalam kandang harus diperhatikan agar pertukaran udara bersih berlangsung secara baik. Di samping itu, faktor mutu dan jumlah pakan juga harus diutamakan agar ternak dalam kondisi fit sehingga lebih resisten atau tahan terhadap infeksi virus.

Selanjutnya, kerjasama proaktif antara peternak dan petugas kesehatan hewan perlu dikembangkan. Kondisi ini tidak saja akan memudahkan bantuan teknis kesehatan namun juga memungkinkan penanganan dini terhadap kasus penyakit. Sudah tentu kerjasama dan koordinasi lintas sektor perlu dirajut untuk memadukan arah dan langkah pengendalian penyakit yang melibatkan manusia dan hewan ini.

Pada akhirnya, hampir dapat dipastikan bahwa ancaman wabah penyakit menular, termasuk virus flu influenza H1N1, dengan intensitas yang beragam, akan terus mengintai dan mengancam kehidupan umat manusia. Kita mungkin akhirnya akan memutuskan untuk hidup berdampingan dengan mikroorganisme penyebab penyakit tersebut. Namun, yang terpenting adalah manusia dengan kemampuan akal budi, ilmu dan teknologi mampu mencegah atau bahkan mengendalikan dampak negatif dari keberadaan dan ancaman mikroorganisme patogen di sekitar lingkungan kita.**